Ini contoh teks berjalan. Isi dengan tulisan yang menampilkan suatu ciri atau kegiatan penting di desa anda.

Artikel

Sejarah Desa Aan

07 Agustus 2018 13:38:09  Isna Saparingga  48.386 Kali Dibaca 

Jro Pasek Gelgel meninggalkan Gelgel.

Kira-kira di abad ke 16 tepatnya setelah berlangsungnya 3 keturunan Pemerintahan Raja Gelgel , maka Jero Pasek Gelgel dengan beberapa pengiringnya minta pamit kepada Dalem untuk mencari tempat sebagai tempat tinggal, yang sudah dapat diselidiki dari Bukit Buluh , ternyata terdapat hutan  di Barat Laut  yang berisi beringin kembar . Disanalah tujuan beliau beserta pengiringnya akan merabas hutan untuk dijadikan desa.

Pada bulan Srawana Icaka 1502 bulan Juli 1580 masehi,rombongan tadi berangkat kearah barat laut  dengan melalui jalan Akah - Manduang  akhirnya sampai  di Yeh Bulan. Disanalah mereka membuat rumah-rumah sementara untuk merabas hutan disebelah baratnya, ternyata hutan tersebut terdiri dari pohon “ Ea “. Karena mengalami suatu rintangan didalam perabasan tersebut maka kepala rombongan mohon wahyu dipucak bukit disebelah utara hutan sambil mengukur denahnya. Setelah mendapat wahyu  maka mereka mendirikan pelinggih tempat pemujaan yang diberi nama Pura Pengukuran dan sampai sekarang masih utuh untuk persembahyangan. Selanjutnya rombongan turun dan mulai mengadakan perabasan lagi dengan membuat satu pelinggih yang diberi nama Pura Swela, yang sampai sekarang tetap disungsung yang upacaranya jatuh pada hari Sabtu wuku landep (tumpek landep). Disinilah rombongan sambang semadi /bertapa dan selanjutnya mendirikan pondok-pondok perkemahan yang diberi nama Petapan. Perabasan terus dilaksanakan dan dilanjutkan sampai keselatan ,dimana para pekerja yang meninggal dikubur disebelah timur yang telah dirabas dengan mendirikan pelinggih dalem rajapati diberi nama Subangan. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan agar keselamatan terjaga didirikan Pelinggih Sila Majemuh dan Puseh Swata.

I Gede Pasek bertemu dengan I Gusti Kacang Dawa dan adanya Raksasa Bangkongan

Selanjutnya rombongan yang telah mempunyai pondok-pondok Abasan. Disebelah barat daya dari pohon beringin kembar telah ada teratur rapi menyerupai sebuah desa,dimana pondok tersebut dihuni oleh I Gusti Kacang Dawa dengan pengiring-pengiringnya. Mereka lebih dulu mendiami pondok-pondok tersebut yang diberi nama pondok Banjar Ambengan dan masih ada bukti sampai sekarang. Setelah

mendengar rombongan I Gede Pasek berada di pondok abasan Swata, segera rombongan I Gusti Kacang Dawa bertemu dengan I Gede Pasek.  Disanalah mengadakan pertemuan dan saling menceritakan segala sesuatu yang sama mempunyai satu tujuan.

Diceritakanlah disebelah utara bukit terdapat sebuah Goa besar yang dihuni oleh mahluk seperti raksasa ,memakan daging manusia yang bernama raksasa bangkongan.

Perpisahan I Gusti Kacang Dawa dengan I Gede Pasek

Pondok Abasan semakin lama semakin berkembang. Dalam perencanaan akan melanjutkan perabasan lagi untuk membentuk desa yang permanen. Disinilah I Gusti Kacang Dawa minta berpisah dengan I Gede Pasek karena ada rasa kekecewaan.

Lahirnya Desa Aan

Berselang beberapa lama,kemudian pohon “ Ea “ sudah bersih dirabas maka segeralah Jro Gede Pasek bersama pengiringnya memindahkan pondok-pondoknya dari Abasan serta membangun rumah-rumah disebelah utara pohon beringin. Setelah membangun rumah-rumah lalu I Gede Pasek merencanakan pembangunan desa.

Perangkat-perangkat desa mulai diadakan seperti banjar patus,tempat-tempat ibadah sangat diutamakan seperti Kahyangan desa ,Penataran Gunung Kawi dll.

Wilayah Desanya dibagi 3 banjar :

1) Banjar Kelodan ( Banjar Peken sekarang )

2) Banjar Tengah  ( Banjar Pasek sekarang )

3) Banjar Kaleran  ( Banjar Carik Dalem/Swelagiri sekarang )

Demikian pula desa adatnya dibagi menjadi 2 bagian yaitu Adat Banjar Patus dan Adat Banjar Pura. Setelah Desa beserta perlengkapannya selesai dibangun maka pembangunan diarahkan pada sektor pertanian. Bendungan/Empelan segera dibangun,sehingga pengairan menjadi teratur dan lancar. Pondok Abasan yang dulunya dipakai tempat tinggal, sekarang dirubah dijadikan persawahan yang sangat subur.Semenjak itulah keseluruhan areal dari hutan “Ea” diubah namanya menjadi Desa Aan yang lebih kurang Icaka 1520.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Pengaduan Online

Peta Desa

Layanan Mandiri

    Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Statistik Penduduk

Sinergi Program

Prodeskel Pajak Online

Aparatur Desa

Info Media Sosial

Arsip Artikel

01 Oktober 2021 | 230 Kali
MUSRENBANGDES RKP Desa TA.2022
16 November 2020 | 388 Kali
BKR Desa Aan Bulan November 2020
16 November 2020 | 353 Kali
PSN Desa Aan Bulan November 2020
19 Oktober 2020 | 563 Kali
Vaksinasi Rabies
25 Juni 2020 | 48.386 Kali
BLT DD Desa Aan
16 April 2020 | 408 Kali
Rapat Koordinasi Pengadaan Masker
13 April 2020 | 388 Kali
Himbauan UPTD Puskesmas Banjarangkan II
06 Agustus 2018 | 48.386 Kali
Pemerintah Desa
06 Agustus 2018 | 48.386 Kali
Visi dan Misi Desa Aan
07 Agustus 2018 | 48.386 Kali
Profil Wilayah Desa
07 Agustus 2018 | 48.386 Kali
Sejarah Desa Aan
13 Agustus 2019 | 48.386 Kali
Realisasi APBDES Th 2018
12 April 2020 | 48.386 Kali
Laporan Triwulan I Realisasi Dana Desa TA.2020
25 Juni 2020 | 48.386 Kali
BLT DD Desa Aan
23 Juni 2018 | 238 Kali
Demokratisasi Desa
16 Januari 2020 | 233 Kali
SENSUS PENDUDUK ONLINE
23 Juni 2018 | 235 Kali
Desa Membangun Indonesia
13 Agustus 2019 | 48.386 Kali
Realisasi APBDES Th 2018
23 Juni 2018 | 230 Kali
Badan Usaha Milik Desa
28 Juni 2018 | 245 Kali
Pemdes se-Kabupaten Klungkung Kembangkan Website Desa Berbasis OpenSID
08 April 2019 | 224 Kali
Penetapan APBDes Desa Aan Tahun 2019

Agenda

Belum ada agenda

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:89
    Kemarin:311
    Total Pengunjung:229.335
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.239.129.91
    Browser:Tidak ditemukan

Komentar Terkini

COVID-19