Sejarah Desa

  • Dibaca: 2809 Pengunjung

Setiap organisasi apapun sudah pasti memiliki latar belakang sejarah, lebih-lebih suatu desa pasti memilki sejarahnya sehingga terbuentuklah suatu desa. Dalama penulisan sejarah saya sajikan secara singkat karena terbatasnya waktu penelitian dan kurangnya pengetahuan sehingga sejarah singkat desa Aan saya dasarkan pada benda-benda purbakala, prasasti-prasasti pura yang ada, disertai penjelasan para penglingsir yang masih sebagai penduduk informal.

 
JRO PASEK GELGEL MENIGGALKAN GELGEL
            Kira-kira abad ke 16 tepatnya setelah berlangsungnya 3 turunan pemerintahan raja gelgel, maka jero pasek gelgel dengan beberapa pengiringnya minta pamit kepada Dalem untuk mencari tempat sebagai tempat tinggal, yang sudah dapat diselidiki adri Bukit Buluh, ternyata terdapat hutan di Barat Laut yang berisi beringin kembar. Disanalah tujuan beliau beserta pengiringnya merambas hutan untuk dijadikan desa.
            Pada bulan sarwa Icaka 1502 bulan juli 1580 masehi, rombongan tadi berangkat ke arah barat laut melalui jalan Akah – manduang akhirnya sampai di Yeh Bulan. Disanalah mereka membuat rumah-rumah sementara untuk merambas hutan disebelah baratnya, ternyata hutan tersebut terdiri dari pohon “Ea”. Karena mengalami suatu rintangan didalam perambasan tersebut maka, kepala rombongan mohon wayhu di pucak bukit di sebelah utara hutan samil mengukur denahnya. Setelah mendapat wahyu maka mereka mendirikan pelinggih (pura) tempat pemujaan yangdiberi nama pura pengkuran dan sampai sekarang masih utuh untuk persembahyangan. Selanjutnya rombongan turun dan mulai mengadakan perabasan lagi denga membuat stu pelinggih yang diberi nama pura swela., yang sampai sekrang tetap disungsung yang upacaranya jatuh pada hari saabtu wuku landep (tumpek landep). Disinilah rombongan smbang samadi/bertapa dan selanjutnya ynag mendirikan pondok-pondok perkemahan yang diberi nama “petapan”. Perambasan terus dilaksanakan dan dilanjutkan sampai keselatan, dimana para pekerja yang meninggal dikubur ddisebelah timur yang telah dirabas dengan mendirikan pelinggih dalem rajapati diberi nama subangan. Dan untuk menghindari hal-hal yang diinginkan agar keselamatan terjaga didirikan peinggih Sila Majemuh dan Puseh Swata.
 
I GEDE PASEK BERTEMU DENGAN I GUSTI KACANG DAWA
DAN ADANYA RAKASA BANGKONGAN
            Selanjutnya rombongan yang telah mempuyai pondok-pondok abasan. Di sebelah barat daya dari pohon beringin kembar telah ada teratur rapi menyerupai desa, dimana pondok tersebut telah dihuni oleh I Gusti kacang Dawa beserta pengikut-pengikutnya. Mereka lebih dulu mendiami pondok pondok tersebut yang diberi nama pondok banjar ambengan dan masih ada bukti sampai sekarang. Setelah mendengar rombongan I Gede Pasek berada di pondok abasan swata, segeralah rombongan I Gusti Dawa Bertemu dengan I Gede Pasek. Disanalah mengadakan pertemuan dan saling menceritakan segala sesuatu yang sama mempunyai satu tujuan.
            Diceritakan di sebelah utara bukit terdapat sebuah goa besar yang dihuni olhe sebuah makhluk seperti raksasa, memakan daging manusia yang bernama raksasa bangkongan.
 
PERPISAHAN I GUSTI KACANG DAWA DENGAN I GEDE PASEK
            Pondok abasan semakin lama semakin berkembang. Dalam perencanaan akan melanjutkan perabasaan lagi untuk membentuk desa yang permanen. Disinilah I Gusti Kacang Dawa minta berpisah kepda I Gede Pasek karena ada rasa kekecewaan.
 
LAHIRNYA DESA AAN
            Berselang beberapa lama, kemudian pohon Ea sudah bersih dirabas maka segeralah jero Gede Pasek beserta pengiringnya memindahkan pondok-pondoknya dari abasan serta membangun rumah-rumah disebelah utara pohon beringin. Setelah membangun rumah-rumah lalu I Gede Pasek merencanakan pembangunan desa.
            Perangkat desa mulai diadakan seperti banjar patus, tempat-tempat ibadah sangat diutamakan seperti Kahyangan desa, Penataran Gunung Kawi dan lain-lain.
Wilayah Desanya terbagi menjadi 3 banjar:
1.      Banjar kelodan (banjar peken sekarang)
2.      Banjar tengah ( banjar pasek sekarang)
3.      Banjar kaleran (banjar carik dalem/swelegiri sekarang)
            Demikian pula banjar adatnya dibagi menjadi 2 bagian yaitu Adat Banjar Patus dan Adat Banjar pura. Setelah desa beserta perlengkapanya selesai dibangun maka pembangunan selanjutnya diarahkan kepada sektor pertanian. Bendungan/empelan segera dibangun, sehngga pengairan menjadi teratr dan lancar. Pondok abasan yang dulunya menjadi tempat tinggal, sekarang dirubah dijadikan persawahan yang sangat subur. Semenjak itulah seluruh areal dari hutan “Ea” di uban namanya menjadi Desa Aan yang lebih kurang Icaka 1520.
            Yang mengatur Desa Adat Aan adalah keturunan I Gede Pasek, terhitung sampai 4 keturunan. Karena merasakan susunan masyarakat belum begitu lengkap, beliau ingin agar dari warga lain ikut membina dalam perkembangan adat istiadat di desa Aan. Maka bliau mohon kepada bliau di Klungkung agar ada keluarga(keturunan) belau di desa Aan. Oleh Dalem Disuruhlah Meminta putra dari I Dewa Agung Pembayun dari puri pejeng, yaitu Cokorde Gede Rai Kesiman Pinatih Untuk Memacekin Di desa Aan. Kedatatangan Cokorda Gede Rai Kesiman Pinatih diiringi oleh 20 kk warga mpu aji Yang berasal dari banjar sala desa Tatiapi pejeng, sehinggautuk mengenang kampung halaman warga Mpu Aji disini dibangunlah banjar bernama banjar sala yang bertempat di sebelah selatan desa dekat Pura Dalem dan kuburan. Disamping memohon ke pejeng, juga memohon ke tampak siring putra I Dewa Gede Mayun.
            Cokorda bersama i Gede Pasek mohon Brahmana untuk mengemban upacara ke agamaan. I Gede Pade juga meminta keturunan I Dewa gede Karang dari akah. Setelah keturunan I Dewa Gede Karang berada di desa Aan, maka pengemong desa dibagi menjadi 2(dua) sebagai berikut:
1.      Di Sebelah Utara bencingah dipegang oleh I Gede Pasek
2.      Di Sebelah Selatan bencingah dipegang oleh I Dewa Gede Karang.
  • Dibaca: 2809 Pengunjung