Selamat Datang di Website Desa Aan

Pj. Perbekel Desa Aan

Desak Ketut Sukerini, SKM

"Pindekan", Baling Baling Bambu Penghias Rumah Anda

  • 17 Agustus 2017
  • Dibaca: 702 Pengunjung
"Pindekan", Baling Baling Bambu Penghias Rumah Anda

Pindekan, Pengusir rasa suntuk yang mampu menyejukkan hati dengan iramanya. Pantas dipasang di rumah Anda. Kerajinan bambu di Bali tak hanya berupa anyaman maupun bingkai foto. Di Desa Dusun Pasek, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, tumbuhan berbuku itu disulap menjadi gamelan yang dipadukan dengan baling-baling. Hal ini

Ini baling baling bambu bukan punyanya Doraemon. Bahasa Balinya Pindekan. Pengusir rasa suntuk yang mampu menyejukkan hati dengan iramanya. Pantas dipasang di rumah Anda. Kerajinan bambu di Bali tak hanya berupa anyaman maupun bingkai foto. Di Desa Dusun Pasek, Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, tumbuhan berbuku itu disulap menjadi gamelan yang dipadukan dengan baling-baling.

Hal ini ditekuni salah satu warga, Ketut Sabar (50). Kerajinan itu ditekuni setelah mendapatkan inspirasi saat pentas tabuh di wilayah Ubud. Kini, karyanya sudah berhasil terjual dan menjadi sumber penghasilan.

Menuju Desa Aan, mata langsung dimanjakan dengan suasana alam yang masih asri. Kanan kiri jalan dipadati hijaunya padi. Bersatu padu dengan merahnya bunga pacah yang tengah mekar. Udara sejuk pun sangat terasa. Saat menginjak ke tengah desa, suasana ramai mulai terasa.

Bangunan berbaris rapi, lengkap dengan telajakan. Di tengah pemandangan itu, nampak seorang pria yang tengah sibuk memotong dan membelah bambu di bangunan semipermanen, di pinggir jalan. Kesan ramah sangat terpancar jelas dari wajahnya, menyapa setiap yang datang. Dia adalah Ketut Sabar, warga Banjar Pasek, Desa Aan. Ia salah seorang perajin pindekan (baling-baling) cungklik berirama.

Di tengah kesibukannya, ia tak sungkan bercerita. Kemampuannya untuk membuat kerajinan bertenaga angin itu mulai dicoba tahun 1991, sesaat setelah pentas tabuh di kawasan Ubud. “Di sana saya melihat baling-baling berirama. Tapi hanya tiga nada. Setelah itu saya langsung coba buat dengan nada lebih banyak,” ujarnya, belum lama ini.

Awal mencoba, karyanya belum sesuai dengan isi hati. Belum mampu berjalan mulus. Meski ia mahir dalam seni tabuh, kesulitan menghasilkan nada ia temui. Namun, itu tak menyurutkan niatnya untuk menciptakan karya seni yang berbeda. Ia terus mencoba, dan akhirnya keinginannya terwujud. “Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya pindekan bisa menghasilkan nada bagus,” katanya.

 

Keinginan untuk memuaskan hasrat seninya tak sampai di sana. Di sela-sela waktu senggang, ia kembali membuat. Berkat kerja kerasnya, tiga jenis irama cungklik telah berhasil diciptakan. Itu berupa baleganjur, angklung dan jauk. Demikian juga dengan ukurannya, ada yang dibuat dengan standar, jumbo dan big jumbo. “Apa yang saya buat ini benar-benar beda dengan yang di Ubud,” ungkapnya.

Awal membuat pindekan, Sabar mengaku tak berorintasi pada bisnis. Namun, seiring dengan banyaknya yang mengenal, kerajinan tradisional ini semakin dilirik. Sejak itu, ia kerap mendapat pesanan. “Sejak dua tahun sudah jadi sumber penghasilan,” sebutnya.

Dari tiga jenis irama yang selama ini dibuatnya, irama baleganjur dan angklung paling banyak peminat. Tidak saja dari Bali namun juga sempat datang dari luar Bali seperti Jakarta. Harga jualnya dipatok dari Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu. “Cuma kadang-kadang ada yang menilai itu mahal. Mereka kurang mengerti seni,” tandasnya.

  • 17 Agustus 2017
  • Dibaca: 702 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita